بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jumat

Literatur Keris Puthut Kembar.:

Beberapa literatur kuno baik versi jawa tentang sejarah perkerisan (serat centhini) maupun buku-buku yang di terbitkan oleh penjajah Belanda zaman dahulu bahwa keris berdapur puthut kembar yang biasa di sebut sebagai omyang jimbe memiliki macam versi. Meski sebenarnya penamaan omyang jimbe kurang pas, karena penamaan tersebut di ambil dari nama seorang empu bernama omyang yang hidup di zaman kerajaan pajang. Namun penamaan tersebut sudah terbiasa di kalangan masyarakat sehingga penamaan dapur puthut kembar menjadi sangat akrab di sebut sebagai keris omyang jimbe. Namun sebenarnya ada beberapa keutamaan dari keris yang biasa di sebut omyang ini, di antaranya Omyang jimbe, Omyang Sugih (untuk kekayaan), Omyang Tagih (untuk tagih hutang), Omyang Tambah Beras, Omyang Cungpet (pemadam listrik), Omyang Darah dan Omyang Kera Nadah (bagian gandhik bentuk kera kembar bukan puthut kembar) konon pusaka yang satu ini termasuk kategori langka dan tergolong mahal, sehingga banyak yang memalsukan.



Namun meski demikian, masyarakat per-keris-an di Jawa Tengah dan Jawa Timur kerap kali atau bisa dibilang familiar dengan yang disebut sebagai keris dapur umyang. Cirinya adalah terdapat ukiran atau relief sepasang manusia (kadang disebut puthut atau badjang) di sebelah kanan dan kiri dapurnya (gandhik atau kadang di bagian wadidang). Sepasang manusia tersebut saling membelakangi. Ciri tambahan lain (tidak selalu ada) adalah terdapat tulisan huruf jawa, relief beringin, payung, dan padi kapas di bilahnya. Istilah yang baku untuk keris umyang ini sebenarnya adalah Keris Dapur Puthut (kembar). Jadi bisa dibilang bahwa keris umyang adalah istilah bagi keris dapur Puthut (Kembar) atau Keris Umyang jimbe. Keris umyang tidak boleh dicampur dengan keris lain, karena perawatannya yang sangat khusus dan harus sangat berhati-hati.
Keris  "Omyang" versi buatan Empu Omyang (Era Pajang) memiliki ganja yangg datar tergolong ganja wuwung. Bagaimana dengan yang dikenal masyarakat dengan "omyang jimbe" (yang dikenal memiliki isoteri (tuah) melindungi harta pemiliknya dan memudahkan menagih hutang, bahkan beberapa keris omyang dapat di manfaatnkan sampai menarik dana ghaib.

Dan apakah setiap keris "Omyang" sepuh semuanya dibuat oleh Empu Umyang yang hidup di era Pajang ? jawabannya tentu tidak. Sekali lagi hal tersebut adalah kesalahan persepsi tentang keris ber dapur puthut kembar ini yang sudah terlanjur beredar di kalangan masyarakat.
Di samping itu Garapan Mpu Omyang juga memiliki ciri di bagian Pesi, yaitu berlubang seperti lubang jarum. Berdasarkan buku versi belanda umyang yang asli hanya ber pamor, wos wutah, wengkon, toyo membeg, lawe saukel dan kelengan, namun seiring kemajuan zaman keris ini banyak di kembangkan menjadi berpamor lain yang lebih indah lagi. Khususnya lebih banyak kepada keris kamardhikan (keris yang di buat setelah zaman kemerdekaan). 


Empu Umyang adalah anak Empu Supa (Sepuh) dari jaman Majapahit. Ki Umyang juga disebut Ki Tundhung Kudus. Disebut demikian karena sewaktu mengabdi kepada Raja Pajang ia diusir dari keraton gara-gara difitnah oleh rekannya Empu Cublak. Di Kudus pembuat keris ini tidak lama, kemudian ia mengabdi ke kerajaan Mataram, bahkan dia diangkat menjadi pemimpin para empu, dan diberi gelar Ki Supa Anom atau lebih kondang disebut Ki Nom.

Karya Empu Umyang banyak dipercaya masyarakat jika digunakan untuk mengkreditkan uang akan
menguntungkan. Yang berhutang selalu akan risih karena diganggu oleh dhemit dan thuyul yang bercokol di dalam keris Umyang itu. Keris Umyang ditandai dengan bagian sor-sorannya yang mbekel (buncit) seperti perut Bethara Narada atau ngedhe karena luknya berjalan kekiri, tidak kekanan seperti lazimnya. Namun menurut pakar tayuh keris R. Oesodo, keris Umyang tidak selalu ngedhe. Ada juga keris Umyang yang berluk biasa bahkan ada juga yang berdapur lurus.

Pada umumnya keris tangguh Pajang memiliki besi mentah, terkesan kurang tempaan Pamornya mubyar (menyala) putih seperti perak. Baja sedang jika berluk, kellokannya terlihat rapat (kekar). Ganja umumnya besar. Sirah cecak juga besar. Tantingannya agak berat, lebih berat dari keris-keris Mataram. Selain Umyang di jaman Pajang juga dikenal Empu Cublak, Empu Wonogati, Empu Surawangan, Empu Joko Puthut dan Empu Pengasih. Pembuatkeris yang disebut terakhir ini ditandai dengan karyanya yang tidak berpamor.

Semoga bermanfaat.





Legalitas Lembaga Spiritual Pengabdian Masyarakat Sudah Dilindungi Undang-Undang

MAHAR ANDA DAPAT DITRANSFER MELALUI

MAHAR ANDA DAPAT DITRANSFER MELALUI
WESEL POS. KE ALAMAT : PO. BOX. 6927. JAT.PK. JKT 13069 INDONESIA.

VIA WESTERN UNION

VIA WESTERN UNION

ATAU BAGIAN ADMINISTRASI LEMBAGA SPIRITUAL PENGABDIAN MASYARAKAT

ATAU BAGIAN ADMINISTRASI LEMBAGA SPIRITUAL PENGABDIAN MASYARAKAT
SHAR-E. A/N: SYAFIQOH NURHAYATI. NO.REK : 919-857-95-99 (VIA ATM BERSAMA KODE BANK : 147).

VISITORS FROM RADAR OF NASA.:

free counters